Kamis, 29 November 2012

Pendahuluan
Tujuan dibuatnya bahasan ini adalah untuk menambah pengetahuan tentang Manajemen Konflik dan contoh dari Manajemen Konflik . Semoga isinya bermanfaat .
Definisi Konflik :Disini ada beberapa sumber pengertian dari Konflik itu sendiri,
Menurut Nardjana (1994) Konflik adalah akibat situasi dimana keinginan atau kehendak yang berbeda atau berlawanan antara satu dengan yang lain, sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu.Menurut Killman dan Thomas (1978), konflik merupakan kondisi terjadinya ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja (Wijono,1993, p.4)Menurut Wood, Walace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, dan Osborn (1998:580) yang dimaksud dengan konflik (dalam ruang lingkup organisasi) adalah: Conflictis a situation which two or more people disagree over issues of organisational substance and/or experience some emotional antagonism with one another.yang kurang lebih memiliki arti bahwa konflik adalah suatu situasi dimana dua atau banyak orang saling tidak setuju terhadap suatu permasalahan yang menyangkut kepentingan organisasi dan/atau dengan timbulnya perasaan permusuhan satu dengan yang lainnya.Menurut Stoner Konflik organisasi adalah mencakup ketidaksepakatan soal alokasi sumberdaya yang langka atau peselisihan soal tujuan, status, nilai, persepsi, atau kepribadian. (Wahyudi, 2006:17)Daniel Webster mendefinisikan konflik sebagai:1. Persaingan atau pertentangan antara pihak-pihak yang tidak cocok satu sama lain.2. Keadaan atau perilaku yang bertentangan (Pickering, 2001).

Contoh Manajemen Konflik Internal dalam perusahaan :

18 Maret 2002
Pemerintah, khususnya Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (Menneg BUMN) diminta segera melakukan langkah penyelamatan terhadap PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebab konflik internal di perusahaan itu kian memanas. Apabila konflik karyawan dan direksi dibiarkan berlarut, kinerja perusahaan bakal bertambah buruk, dan negara pun akan menderita kerugian ekonomis, politis, dan sosial yang luar biasa.
Demikian Taufik Hidayat, peneliti perkeretaapian pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Sabtu (16/3). Taufik menanggapi sikap Dewan Komisaris PT KAI yang menilai PT KAI sedang berada dalam kondisi yang memprihatinkan dan mengalami kemunduran terselubung. Penyebabnya adalah suasana kerja yang semakin tak kondusif, menyusul konflik serta ketegangan antara direksi dan karyawan pascapemilihan direksi baru yang masih terus memanas.
Sikap tersebut tertuang dalam surat Dewan Komisaris PT KAI yang ditujukan kepada Menneg BUMN dan Menteri Perhubungan. Surat itu ditandatangani Ketua Dewan Komisaris Santo Budiono dengan Nomor 10/DEKOM/III/2002 tanggal 12 Maret 2002. (Kompas 13/3)
Menurut Taufik, ia sangat terkejut dengan sikap Dewan Komisaris tersebut. Alasannya, dua bulan lalu, Dewan Komisaris begitu getol mencalonkan serta mendukung Omar Berto sebagai calon Direktur Utama (Dirut) PT KAI. Namun demikian, Taufik berkeyakinan, perubahan sikap itu lebih didasarkan pada keinginan untuk menyelamatkan perusahaan dari kemungkinan mengalami kehancuran yang lebih parah.
Apalagi dalam beberapa pekan terakhir, penolakan terhadap Omar Berto dan para direksi lainnya bukan hanya dilakukan Serikat Pekerja Kereta Api (SPKA). Tetapi juga sudah mulai merambat pada sebagian besar kepala sub-direktorat (pejabat setingkat di bawah direksi). Hal tersebut terbukti dari dibatalkannya pelaksanaan rapat koordinasi (rakor) rencana kerja dan anggaran pada 12-13 Maret 2002. Karena 36 dari 42 kepala sub-direktorat PT KAI “memboikot” rakor itu.
“Karena itu, Menneg BUMN selaku pemegang saham harus bertindak antisipatif dengan segera menyikapi kondisi obyektif yang berkembang dalam PT KAI. Misalnya, menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB). Jangan menunggu sampai karyawan mogok barulah Menneg BUMN turun tangan,” kata Taufik Hidayat.
Pekan lalu, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR, para anggota Dewan juga mendesak Menneg BUMN Laksamana Sukardi agar segera menyelesaikan konflik internal PT KAI. Gerakan penolakan SPKA terhadap Omar Berto benar-benar dilakukan di lapangan. Jika kondisi tersebut dibiarkan, menurut mereka, yang menderita kerugian bukan hanya PT KAI, tetapi juga masyarakat dan negara.

Laksamana Sukardi sebelumnya mengatakan, para direksi PT KAI yang dipilih sebulan yang lalu tersebut untuk melakukan perubahan, serta pembenahan dalam tubuh perusahaan. Dan setiap perubahan pasti ada gejolak. Namun, hal itu pasti dapat diselesaikan dengan baik oleh manajemen.
“Kalau ada karyawan tak setuju, itu juga merupakan bagian dari apresiasi. Tapi, dalam perusahaan juga telah memiliki peraturan yang patut dipatuhi. Kalau tidak setuju karena direksi yang terpilih telah melakukan korupsi, misalnya, maka tolong tunjukkan buktinya,” tambah Laksamana.
Sekalipun demikian, Laksamana menyatakan akan membenahi pekeretaapian. Salah satunya, pemerintah takkan lagi bertindak sebagai regulator sekaligus operator. Pemerintah hanya sebatas regulator, serta menyiapkan infrastruktur, sedangkan operator kemungkinan diberikan kepada swasta. “Apabila pemerintah juga bertugas sebagai operator, pasti akan amburadul seperti yang tampak selama ini,” ujar Laksamana tanpa menyebutkan sejak kapan ide pemisahan peran pemerintah atas kereta api itu akan direalisasikan. (Kompas)

Penyelesaiannya menurut saya yaitu :
Ada baiknya apabila para karyawan dan direksi agar masalah internal ini cepat selesai . Selain itu ada baiknya PT KAI sendiri tidak membesar-besarkan masaah interna ini agar tidak mericuhkan keryawan,direksi maupun masyarakat yang lainnya .
PT KAI harusnya dapat menerima pendapat para karyawan atas ketidaksetujuan,dan diharapkan para karyawan maupun direksi selalu mematuhi peraturan yang ada,dan seharusnya pemerintah tidak bertindak sebagai operator karena pemerintah disini hanya sebatas regulator yang tugasnya memberi masukkan yang baik untuk PT KAI.
Dan ada baiknya apabila pemilihan direksi PT KAI dilakukan dengan benar agar tidak ada terjadinya korupsi di organisasi tersebut yang akhirnya memicu konflik internal seperti ini.
thanks to:

http://vebvebbry.wordpress.com/2012/01/06/konflik-internal-pt-kai-kian-panas/

Selasa, 06 November 2012

ORGANISASI LINI


Nama     : RIFKI ALIF
NPM       : 161111179
KELAS   : 2KA09


PENDAHULUAN


Pembahasan kali ini bermaksud untuk mempelajari tentang Organisasi Lini dan ciri - ciri nya . Semoga apa yang telah dibuat dapat bermanfaat dan ememnuhi kriteri penilaian tugas SoftSkill kali ini .


ORGANISASI LINI 


   Organisasi ini dalam pembagian tugas dan wewenang yang tegas antara pimpinan dan pelaksanaan. Peran pimpinan dalam hal ini sangat dominan dan semua kekuasaan ditangan pimpinan. Dalam pelaksaan kegiatan yang utama adalah wewenang dan perintah. Organisasi semacam ini khususnya terdapat di instusi yang kecil sangat efektif karena keputusan cepat diambil dan pelaksanaan keputusan juga cepat.

 A. Ciri Organisasi Lini
  • Hubungan antara pimpinan dan bawahan masih bersifat melalui satu garis wewenang
  • Jumlah karyawannya sedikit
  • Pimpinannya adalah pemilik perusahaan
  • Merupakan suatu bentuk organisasi kecil
 B. Keuntungan
  • Pengendalian secara ketat dan dapat dilaksanakan
  • Pengambilan keputusan cepat
  • Kesatuan pemimpin terletak dalam satu tangan
  • Garis pimpinan tegas
 C. Kerugian
  • Hampir tidak dapat dibedakan antara tujuan pribadi dan tujuan perusahaan
  • Organisasi ini bergantung pada satu orang
  • Kesempatan untuk mengembangkan diri sangat terbatas
  • Pimpinan memiliki kecenderungan untuk menjadi diktator


ORGANISASI LINI DAN STAFF


   Organisasi Lini dan Staff adalah kombinasi dari organisasi lini dan organisasi fungsional. Biasanya organisasi ini terjadi pada organisasi yang lebih besar dimana penyedia tenaga spesialis sudah semakin dirasakan untuk memberikan nasihat, saran teknis, dan jasa kapada unit operasional.

 A. Ciri Organisasi Lini dan Staff
  •  Pimpinannya hanya satu orang dan dibantu oleh para staf
  •  Terdapat dua kelompok wewenang
  •  Kesatuan perintah tetap dipertahankan, setiap atasan mempunyai bawahan tertentu dan setiap bawahan mempunyai atasan langsung
  • Organisasinya besar, karyawan dan pekerjanya bersifat kompleks
  • Hubungan antara atasan dan bawahan tidak bersifat langsung 
  • Pimpinan dan karyawan tidak semuanya saling mengenal
  • Spesialis yang beraneka ragam diperlukan dan digunakan secara optional
 B. Keuntungan
  • Adanya pembagian tugs yang jelas antara kelompok lini yang melakukan tugas pokok organisasi dan kelompok staff melakukan kegiantan penunjang 
  • Asas spesialis yang ada dapat dilanjutkan menurut bakat bawahan masing-masing
  • Koordinasi dalam setiap unit kegiatan dapat diterapkan dengan mudah
  • Dapat digunakan dalam organisasi yang lebih besar.
 C. Kerugian
  • Pimpinan sering mengabaikan nasehat atau saran dari staff
  • Pimpinan staff sering mengabaikan gagasan yang dikemukankan oleh pimpinan lini
  • Adanya kemungkinan pimpinan stadd melampaui batas kewenangannya
  • Perintah lini dan perintah staff sering membingungkan anggota organisasi karena kedua jenis hirarki dan sering tidak sama dalam memandang sesuatu

ORGANISASI FUNGSIONAL


   Organisasi fungsional adalah bentuk organisasi yang dimana atasan memberikan tugas atau kewenangan kepada bawahan sesuai dengan apa yang diinginkan atasannya. Setiap pimpinan dari satuan mempunya kekuasaan untuk memerintah dan mengawasi semua bawahan mengenai bidangnya. Pada organisasi ini masalah pembagian kerja mendapat perhatian yang sungguh-sungguh berdasarkan spesialis atau bidang yang medalam.

A. Ciri Organisasi Fungsional
  • Dapat dibedakan pembidangan tugas secara tegas dan jelas
  • Bawahan akan menerima perintah dari atasan
  • Penempatan jabatan berdasarkan spesialisnya
  • Koordinasi menyeluruh biasanya hanya pada tingkat atasan
  • Terdapat dua kelompok wewenang yaitu, wewenang lini dan wewenang fungsi
 B. Keuntugan
  • Adanya pembagian tugas antara kerja fikir (mental) dan fisik
  • Dapat dicapai tingakat spesialisasi yang baik
  • Solidaritas antara orang-orang yang menjalankan fungsi yang sama tinggi
  • Moral serta disiplin kerja yang tinggi
  • Koordinasi antara orang-orang dalam satu fungsi mudah dijalankan
 C. Kerugian
  • Inisiatif perseorangan sering tertekan karena sudah dibatasi pada satu fungsi
  • Sulit mengadakan pertukaran tugas, karena hanya bisa disatu bidang saja
  • Koordinasi yang sifatnya menyeluruh sulit diadakan karena orang-orang yang bergerak dalam satu bidang mementingkan fungsinya

BAB II TEORI 


Contoh penerapan sistem sturuktur organisasi salah satu perusahaan pengembang (developer company) yang ada dijakarta PT. Graha Buana Cikarang .

    Data Perusahaan :
  • Nama Perusahaan    :   PT. Graha Buana Cikarang (PT.GBC)
  • Bidang Usaha          :   Perencanaan dan Kontraktor
  • Alamat Perusahaan   :  Jl. KH Mas Mansyur Kav 126 Menara Batavia, Karet, Kode Pos 10220
  • Telephone               :  (021) 5732433
  • Struktur Organisasi  : Organisasi Fungsional
     





Struktur organisasi perusahaan PT. Graha Buana Cikarang dapat dijelaskan sistem dan ruang lingkup kerja masing-masing divisi (unsur).

1. Board of Director
    Board of Director merupakan jajaran direksi yang berada di kantor pusat (head office). Jajaran direksi adalah orang-orang yang memegang saham pada perusahaan PT. Graha Buana Cikarang dan mereka juga memegang kekuasaaan penuh terhadap arah kebijakan yang diambil. Salah satu arah kebijakan dari jajaran direksi adalah membuat planning bersama Direktur Eksekutif mengenai ruang lingkup master project (proyek induk) yang akan dilaksanakan. Pada operasionalnya jajaran direksi mengangkat seorang Direktur Eksekutif untuk memimpin perusahaan.

2. Direktur Eksekutif
    Direktur Eksekutif merupakan pimpinan tertinggi dalam menjalankan perusahaan dan Direktur Eksekutif bertanggung jawab terhadap seluruh pelaksanaan kegiatan-kegiatan perusahaan. Salah satu tugasnya yaitu mengontrol pelaksanaan master project (proyek induk). Direktur Eksekutif juga berada di kantor pusat dan setiap dua minggu sekali meninjau ke site office untuk memeriksa kemajuan progress proyek induk.

3. General Manager
    General Manager diangkat oleh Direktur Eksekutif untuk memimpin langsung proyek induk dan tetap stand by di site office. General Manager juga berfungsi sebagai wakil dari pihak pemilik untuk memimpin dan mengawasi pelaksanaan proyek induk. Dalam menjalankan tugas-tugasnya General Manager membentuk beberapa divisi manajemen yaitu Human Resources Department, Marketing Management, Management Information System, Production Management, dan Construction Management. Masing-masing divisi manajemen dikepalai oleh seorang manager.

4. Human Resources Department
    Divisi ini mengatur seluruh urusan administrasi dan kepegawaian, antara lain: surat menyurat ke instansi perusahaan lain, transfer gaji karyawan, urusan surat perjanjian kerja, penyediaan peralatan kantor dan sebagainya.


BAB III PEMBAHASAN


Berdasarkan sistem struktur organisasi yang digunakan oleh PT. Graha Buana Cikarang (1996) dan berdasarkan uraian teori-teori sistem struktur organisasi yang ada, dapat dilihat bahwa struktur organisasi yang digunakan adalah Organisasi Fungsional tetapi tidak terstruktur. Sehubungan dengan tujuan dan kondisi perusahaan yang meliputi jumlah proyek yang ditangani, jumlah karyawan, jenis bisnis yang ditangani, hubungan pemilik terhadap perusahaan konsultan dan perusahaan kontraktor, lokasi proyek terhadap kantor pusat dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa sistem struktur organisasi PT. Graha Buana Cikarang merupakan gabungan dari sistem struktur organisasi teori yang ada. Sistem struktur organisasi gabungan ini pada kenyataannya telah mengalami penyesuaian dan penyelarasan terhadap kondisi dan tujuan perusahaan. Sistem struktur organisasi yang digunakan ternyata cukup cocok dengan kondisi dan tujuan dari perusahaan PT. Graha Buana Cikarang. Keuntungan yang lain dari penggunaan sistem struktur organisasi gabungan ini yaitu para pimpinan pusat dan pimpinan di proyek dapat mengawasi dengan baik sistem keuangan dan prestasi kerja antara divisi-divisi manajemen yang ada sehingga terciptanya efisiensi dan efektifitas kerja yang tinggi. 


Thanks To
- http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1385/1/sipil-aswin2.pdf
- http://4r13s.wordpress.com/2009/12/31/keuntungan-dan-kelemahan-organisasi-linistaff
- http://ahmadramdani2.blogspot.com/2012/10/organisasi-lini.html